plastic flower

plastic flower

 

If I reply your text, then be lucky because I think you’re important enough.

Text. 

SMS. 

Entah bagaimana, diantara semua media komunikasi zaman sekarang, gue paling enggak suka sama SMS–tapi tentu saja yang paling gue enggak suka adalah telepon. Berasa barbar sekali ketika menelepon teman atau orangtua. Pertama karena kualitas telepon tergantung sinyal dan juga lumayan banyak nyedot pulsa. Belum lagi kalau yang kita telpon telinganya udah agak gak bener, bisa kebayang berisiknya percakapan itu nanti. As for text, gue ga suka karena meskipun praktis, cukup murah, dan bisa dilakukan oleh semua tipe HP tapi tetep aja ga bikin gue suka sama fitur komunikasi satu ini. 

Menurut gue sih, SMS itu PHP. Bikin kita deg-degan sama reply-nya. Mending kalau langsung dibalas, kalau balasnya lama? Atau malah ga dibalas sama sekali? 

Gue sendiri lebih milih pakai app kek twitter atau facebook atau whatsapp sekalian. Ga ngerti juga padahal hampir sama kek SMS sih. Sama-sama PHP, tapi entah kenapa SMS lebih PHP soalnya kita enggak tau user-nya masih on atau enggak, 

//ngelantur 

Jadi apa hubungannya sama plastic flower? Enggak ada. 

Ga usah protes lah ya, wong gue sendiri yang nulis ini. Kalian duduk diam anteng baca post saya aja.

Jadi, yeah. Gue enggak balas SMS yang menurut gue not worth it, karena let’s face it: gue internet addict, dan tiap rupiah pulsa HP gue itu amat teramat berarti–walaupun di rumah ada wifi sih but that’s another case. 

Gue tetep enggak rela lah. 

Sama aja kek tugas sejarah besok. Gue sebenernya mau aja datang, tapi mendadak badan gue sakit semua dan shizz yah jadi agak males juga. Dan juga gue punya sakit kepala yang lumayan parah karena kurang tidur akhir-akhir ini. 

Lalu gue merasa gue sangat double standard dalam hal apapun. Ah tapi gak juga lah. Meski temen deket yang ngajak gue belum tentu mau datang/ikut. Maklum, hormone and mood-ridden type. Semuanya didasarkan pada mood dan hormon yang lagi main. Sukur kalau yang lagi main mood rajin, gue udah tancap gas kali. Tapi enggak juga sih, tergantung orangnya siapa juga.

Tuh kan, double standard banget.

Gue merasa enggak ada bedanya sama bunga plastik; mawar plastik untuk lebih spesifik. Tajam sih, tapi enggak begitu tajam sampai menggores kulitmu. Awet hingga akhir waktu, menipu dari jauh, dan ternyata mau se-nyata, se-hidup apapun ia terlihat, tetap saja ia mati. 

Bukankah itu cocok untuk menjelaskan keadaan masyarakat saat ini? Atau cuma gue yang terlalu lebay binti alay dalam menganalisa sesuatu? =))

Atau ternyata, mawar plastik itu adalah refleksi gue sendiri?

Gue enggak ngerti apa hubungannya bunga plastik, SMS, PHP, sama gambaran masyarakat zaman ini? 

Gue sendiri juga gatau =)) sakit memang bisa bikin kamu ngelindur guys. 

Sincerely,

Singa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s